RRI : Dari masa ke masa
Judul :RRI : Dari masa ke masa.
Label:
Radio,
RRI,
Sejarah Indonesia
.
Sejarah Radio Republik Indonesia.
Melalui situsnya dijelaskan bahwa RRI atau Radio Republik Indonesia
secara resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh
yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6
kota. Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman, Jalan Menteng
Dalam, Jakarta, menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik
Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum
RRI yang pertama. Rapat tersebut juga menghasilkan suatu deklarasi yang
terkenal dengan sebutan Piagam 11 September 1945, yang berisi 3 butir
komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian dikenal dengan Tri Prasetya
RRI.
Penghapusan Departemen Penerangan oleh Pemerintah Presiden Abdurahman
Wahid dijadikan momentum dari sebuah proses perubahan government owned
radio ke arah Public Service Boradcasting dengan didasari Peraturan
Pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7
Juni 2000. Saat ini RRI memiliki 52 stasiun penyiaran dan stasiun
penyiaran khusus yang ditujukan ke Luar Negeri dengan didukung oleh 8500
karyawan. Kecuali di Jakarta, RRI di daerah hampir seluruhnya
menyelenggarakan siaran dalam 3 program yaitu Programa daerah yang
melayani segmen masyarakat yang luas sampai pedesaan, Programa Kota (Pro
II) yang melayani masyarakat di perkotaan dan Programa III (Pro III)
yang menyajikan Berita dan Informasi (News Chanel) kepada masyarakat
luas.
Di Stasiun Cabang Utama Jakarta terdapat 6 programa yaitu programa I
untuk pendengar di Propinsi DKI Jakarta Usia Dewasa, Programa II untuk
segment pendengar remaja dan pemuda di Jakarta, Programa III khusus
berita dan Informasi, Programa IV Kebudayaan, Programa V untuk saluran
Pendidikan dan Programa VI Musik Klasik dan Bahasa Asing. Sedangkan
"Suara Indonesia" (Voice of Indonesia) menyelenggarakan siaran dalam 10
bahasa.
Sejarah Awal RRI
Siaran radio yang pertama di Indonesia (waktu itu bernama Nederlands
Indie - Hindia Belanda), ialah Bataviase Radio Vereniging (BRV) di
Batavia (Jakarta Tempo dulu), yang resminya didirikan pada tanggal 16
Juni 1925, jadi lima tahun setelah di Amerika Serikat, tiga tahun
setelah di Inggris dan Uni Soviet.
Stasiun radio di Indonesia semasa penjajahan Belanda dahulu mempunyai
status swasta. Karena sejak adanya BRV tadi, maka muncullah badan-badan
radiosiarn lainnya Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj
(NIROM) di Jakarta, Bandung dan Medan, Solossche Radio Vereniging (SRV)
di Solo, Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO) di Yogjakarta,
Verniging Oosterse Radio Luisteraars (VORO) di Bandung, Vereniging Voor
Oosterse Radio Omroep (VORO) di Surakarta, Chineese en Inheemse Radio
Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) di Surabaya, Eerste Madiunse
Radio Omroep (EMRO) di Madiun dan Radio Semarang di Semarang.
Di Medan, selain NIROM, juga terdapat radio swasta Meyers Omroep Voor
Allen (MOVA), yang di usahakan oleh tuan Meyers, dan Algeemene
Vereniging Radio Omroep Medan (AVROM). Di antara sekian banyak badan
radio siaran tersebut, NIROM adalah yang terbesar dan terlengkap, oleh
karena mendapat bantuan penuh dari pemerintah Hindia Belanda.
Perkembangan NIROM yang pesat itu disebabkan pula keuntungannya yang
besar dalam bidang keuangan yakni dari "pajak radio". Semakin banyak
pesawat radio dikalangan masyarakat, semakin banyak uang yang diterima
oleh NIROM. Dengan demikian, NIROM dapat meningkatkan daya pancarnya,
mengadakan stasiun-stasiun relay, mengadakan sambungan telepon khusus
dengan kota-kota besar, dll.
Pada waktu itu terdapat saluran telepon khusus antara Batavia, Bogor,
Sukabumi, Bandung, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo,
Yogykarta, Magelang, Surabaya, Tangerang, Depok, Bekasi, Malang yang
jumlahnya kira-kira 1,2 juta meter saluran telepon untuk memberi
modulasi kepada pemancar-pemancar di kota-kota itu. Dengan Demikian
NIROM dapat mengadakan siaran sentral dari Semarang, Bandung, Surabaya,
Yogyakarta ataupun Solo. Hal itu beda sekali dengan badan-badan radio
siaran lainnya yang berbentuk perkumpulan swasta, terutama yang
diusahakan bangsa pribumi, yang hidupnya dari iuran para anggota.
Munculnya perkumpulan-perkumpulan stasiun radio di kalangan bangsa
Indonesia disebabkan kenyataan, bahwa NIROM memang dapat bantuan dari
pemerintah Hindia Belanda itu lebih bersifat perusahaan yang mencari
keuntungan finansial dan membantu kukuhnya penjajahan di Hindia Belanda.
Pada saat itu pemerintah penjajahan Belanda menghadapi semangat
kebangsaan di kalangan penduduk pribumi yang berkobar sejak tahun 1908,
lebih-lebih setelah tahun 1928.
Sebagai pelopor timbulnya radio siaran usaha bangsa Indonesia ialah
Solosche Radio Vereniging (SRV) yang didirikan pada tanggal 1 April
1933. Dalam hubungan dengan itu patut di catat nama Mangkunegoro VII
seorang bangsawan Solo dan seorang Insinyur bernama Ir.Sarsito
Mangunkusumo yang berhasil mewujudkan SRV itu.
Sejak tahun 1933 itulah berdirinya badan-badan radio siaran lainnya,
usaha bangsa Indonesia di berbagai kota besar seperti disebutkan di
atas, berdirinya SRV, MARVO, VORL, CIRVO, EMRO, dan Radio Semarang itu
pada mulanya dibantu oleh NIROM,oleh karena NIROM mendapat bahan siaran
yang bersifat ketimuran dari berbagai perkumpulan tadi. Tetapi kemudian
ternyata NIROM merasa khawatir perkumpulan-perkumpulan radio ketimuran
tadi membahayakan baginya.
Pada tahun 1936 terbetik berita, bahwa mulai tahun 1937 "Siaran
Ketimuran seluruhnya akan dikuasai oleh NIROM sendiri". Ini berarti
bahwa mulai tahun 1937 subsidi dari NIROM akan dicabut, setidk-tidaknya
akan dikurangi, karena NIROM tidak akan lagi merelay siaran-siaran radio
milik pribumi, setidak-tidaknya kalau terpaksa merelay hanya sedikit
sekali. Seperti diketahui subsidi NIROM itu semula diberikan berdasarkan
perhitungan jam-merelay.
Berita itu cukup menggemparkan orang-orang radio di luar NIROM, karena
pencabutan subsidi itu akan melemahkan badan-badan radio siaran
bersangkutan. Memang adalah maksud NIROM yang bersandarkan kekuatan
penjajahan itu untuk mematikan perkumpulan-perkumpulan radio siaran
ketimuran.
Pada tanggal 29 Maret 1937 atas usaha anggota Volksraad M.Sutarjo
Kartokusumo dan seorang Insinyur bernama Ir.Sarsito Mangunkusumo
diselenggaraka suatu pertemuan antara wakil-wakil radio ketimuran
bertempat di Bandung wakil-wakil yang mengirimkan utusannya ialah : VORO
(Jakarta), VORL (Bandung), MAVRO (Yogyakarta), SRV (Solo) dan CIRCO
(Surabaya), pertemuan hari itu melahirkan suatu badan baru bernama :
PERIKATAN PERKUMPULAN RADIO KETIMURAN (PPRK) sebagai ketuanya adalah :
Sutarjo Kartohadikusumo.
Tujuan PPRK yang non-komersial itu bersifat "Sociaal kultureel"
semata-mata memajukan keseniaan dan kebudayaan nasional guna kemajuan
masyarakat Indonesia, rohani dan jasmani.
Pada tanggal 7 Mei 1937 atas usaha PPRK diadakan pertemuan dengan
pembesar-pembesar pemerintahan untuk membicarakan hubungan antara PPRK
dengan NIROM. Pertemuan itu menghasilkan suatu persetujuan bersama,
bahwa PPRK menyelenggarakan siaran ketimuran, NIROM menyelenggarakan
segi tehniknya.
Sejak itu PPRK berusaha keras agar PPRK dapat menyelenggarakan sendiri
sepenuhnya tanpa bantuan dari NIROM.Disebabkan situasi semakin panas
oleh api perang di Eropa yang menyebabkan Negeri Belanda dalam keadaan
sulit yang membutuhkan bantuan rakyat jajahannya, maka pemerintah Hindia
Belanda menjadi agak lunak.
Seperti diketahui, tanggal 1 September 1939 Jerman di bawah pimpinan
Adolf Hitler menyerbu Polandia yang menyebabkan timbulnya perang dunia
II, dan kemudian pada tahun 1940 Jerman menduduki Denmark, Norwegia,
Belgia dan Negeri Belanda. Pada tanggal 1 November 1940 tercapailah
tujuan PPRK yakni menyelenggarakan siaran yang pertama dari PPRK.
Sejarah RRI pada Masa Penjajahan Belanda
Jika kita membuka-buka lembaran sejarah radio Indonesia maka akan nampak
bahwa adanya radio untuk pertama kalinya di Indonesia sekitar tahun
1920an adalah untuk kepentingan penjajah Belanda.
Hubungan yang cepat antara negeri Belanda dengan daerah-daerah
jajahannya seperti Hindia Belanda sangat diperlukan terutama untuk
menyampaikan peraturan dan undang-undang serta berita-berita penting.
Keperluan itu lebih mendesak lagi ketika pecah perang dunia pertama.
Perang Dunia I (1914-1918) memberi pengalaman kepada negeri Belanda.
Ketegangan hubungan melalui telegraf laut antara negeri Belanda dan
Indonesia dari saluran Inggris, yang terlibat dalam peperangan,sangat
menyulitkan Belanda.Hubunga Indonesia Belanda pada waktu itu melalui
saluran telegraf laut,yaitu London-Aden.
Sesudah perang Dunia 1 berakhir, Belanda mencari hubugan langsung dengan
Indonesia, antara lain melalui udara atau radio telegrafi.Belanda
berhasil mendirikan pemencar radio telegrafi di negeri Belanda,yang
kemudian dititngkatkan menjadi hubungan radio telefoni.Seteleh itu
berkembenglah apa yang dinamakan dengan "radio amatir" di
Indonesia,terutama sekali di lingkungan golongan peminat teknik radio
yang sebagian besar adalah orang-orang Belenda.Tenaga-tenaga radio
amatir ini banyak dibantu oleh pegawai teknik PTT.Merka membuat alat
pemancar dan alat penerima sendiri sehingga dapat megadakan hubungan
dengan radio amatir di negara-negara lain yang pada waktu itu sudah
cukup banyak.
Dengan maksud untuk mengobarkan kesadaran radio dikalanga
masyarakat,pemerintah Belanda memberi kesempatan kepada mereka yang
berminat dan memenuhi persyaratan untuk membuat pemencar dan penerima
siaran radio sendiri. Pihak PTT bagian teknik radio memberikan bantuan
teknik seperlunya.Perkumpulan-perkumpulan radio dibentuk dan dapat
mengadakan hubungan satu sama lain. Lambat laun timbul hasrat untuk
menyelenggarakan siaran radio dengan programnya.
Lahirlah perkumpulan siaran radio pertama Indonesia pada tanggal 16 Juni
1925 di Jakarta,dengan nama "Bata viase Radio Vereniging" disingkat BRV
yang menurut aktenya didirikan untuk waktu 29 tahun.
BRV didukung oleh wartawan dan pengusaha Belenda ; dengan demikian
sedikit banyak ada tujuan komersil dalam siaranya, berupa propaganda
perusahaan dan perdagangan.Sudah tentu siaran radio yang pertama lahir
di Indonesia ini menggunakan Bahasa Belanda dan tempat siaranya di salah
satu ruangan Hotel des Indes yang terletak disudut Harmoni.
Sejarah RRI - NEDERLANDS INDISCHE RADIO OMROEP (NIROM)
Dengan berkembangnya siaran radio yang dipelopori BRV, pemerintah Hindia
Belanda menganggap sudah waktuny untuk mengadakan peraturan-peraturan
tentang penyiaran radio (radio omroep).
Pada tahun 1934 diresmikan apa yang disebut "Radiowet" (Undang-undang
Radio).Dengan lahirnya Radiowet diresmikan pula perkumpulan radio yang
di beri nama "Nederlands Indische Radio Omroep atau NIROM.
NIROM dapat lisensi dari pemerintah India Belanda untuk menyelenggarakan
siaran radio dengan program yang lengkap. Kepada NIROM diberikan hak
untuk menerima apa yang disebut "iyuran pendengar" (Luister
bijdrage),sebesar & 1.50 sebulan untuk setiao pesawat radio.
sementara itu kota-kota besar di Pulau Jawa seperti di
Bandung,Cirebon,Tegal,Pekalongan,Semarang,Sala,Yogyakarta,Magelang,Surabaya
dan Malang di dirikan stasiun-stasiun relay.PTT menyediakan pula
saluran telpon khusus untk menghubungkan pemancar NIROM pusat dengan
studio-studio tersebut yang disebut NIROM lijen.NIROM dapat mengadakan
siaran-siaran sentral dari salah satu tempat yang dilalui NIROM Lijin.
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut maka NIROM sebenarnya adalah sebuah
badan setengah resmi dari pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun pertama
programa siaran NIROM dititik beratkan kepada siaran bahasa
Belanda,kemudian di perluas dengan programa "ketimuran" yang ditujukan
kepada pendengar-pendengar bahasa Indonesia.Dengan pembayaran yang
besar,NIROM dapat menarik orkes dan penyanyi terbaik.Melalui
siaran-siaran yang di selingi dengan bermacam-macam pidato,uraian dan
ceramah, NIROM menyebarkan doktrin-doktrin dari "etische politiek"
pemerintah kolonial untuk mengimbangi makin meningkatnya pergerakan
kebangsaan di Indonsia.
Sejak bangkit dan semakinya pergerakan kebangsaan dengan lahirnya
"Sumpah Pemuda" tanggal 28 Oktober 1928,pemerintah Hindia Belanda
menyadari bahwa pergerakan kebangsaan itu sangat membahayakan kekuasaan
kolonialnya dan karna itu harus dihancurkan. Sementara itu di samping
NIROM lahirlah perkumpulan-perkumpulan siaran radio yang suudah mulai
dengan memperhatikan mutu acara. Hal ini merupakan tantangan bagi NIROM.
Dengan pecahnya perang DUNIA II dan didudukinya negeri Belanda oleh
Jerman pada tahun 1940,pemerintah Hindia Belanda mengubah poitiknya di
Indonesia, dengan cara memberikan konsensi politik.Tindakan ini
tercermin juga dalam siaran-siaran NIROM pada tahun 1940.Politik
pendekatan terhadap rakyat Indonesia itu lebih ditingkatkan setelah
pecahnya perang pasifik dan tentara Jepang sudah mendekati Indonesia
pada awal tahun 1942.
Sejarah RRI - BANGKITNYA RADIO KEBANGSAAN
Dengan progrma-prograna siaran yang baik dan penyelenggaraan acara
siaran yang menarik,NIROM berhasil "mengalihkan" perhatian masyarakat
dari masalah-masalah politik, dan politik golongan pemimpin yang juga
senang kesenian dan kebudayaan,untuk lebih banyak bergerak di bidang
tersebut.
Tidaklah mengherankan jika dalam waktu singkat muncullah
perkumpulan-perkumpulan siaran radio Bahasa Indonesia,yang tujuan
utamanya menyiarkan kesenian dan kebudayaan Indonesia.
Berturut-turut lahirlah SRV (Solosche Radio Vereniging) di kota Solo
pada tahun 1933,VORO(Vereniging Oostersche Radio Omroep) di Jakarta pada
tahun 1934 kemudian VORL (Vereniging Oostersche Radio Luistraas) di
Bandung,CIRVO (Chinesse en Intreemse Radio Luisteraars Vereniging Oost
Jawa)di Surabaya.EMRO (Eerste Madioense Radio Omroep) di Madiun dan
MAVRO (Mataramse Vereneging Voor Radio Omroep) di Yogyakarta.Dan pada
tahun itu pula di Solo muncul lagi sebuah perkumpulan siaran dengan nama
SRI singkatan dari Siaran Radio Indonesia,sedang pada tahun 1936 di
Semarang berdiri Radio Semarang.
Jika awal kelahirannya,siaran-siaran radio bangsa Indonesia itu masih
menggunakan istilah "ketimuran" untuk "Indonesia",maka SRI di Solo sudah
terang-terangan mencantumkan perkataan "Indonesia" pada namanya.
Bagaimana pergerakan kebangsaan tak dapat di bendung.Perlahal-lahan
masuklah unsur politik dalam siaran-siaran radio ketimuran.
Pada tanggal 28 Maret 1937,wakil-wakil dari VORO(Jakarta) VORL(Bandung)
MAVRO(Jogjakarta), SRV (Surakarta) dan CIVRO (Surabaya) di bawah
pimpinan Soetarjo Karto Hadi Koesumo,mengambil keputusan untuk
mendirikan "Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK).
Usul PPRK disetujui oleh pemerintah Hindia Belanda dalam pertemuan di
Jakarta tanggal 7 Mei 1937,yang dirumuskan dalam bahasa Belanda sebagai
berikut : "Ggrondlagen Voor Een regeling tot deelname door de federasi
PPRK aanden Oostersen Omroep in Nederlands-Indie over de Nirom
zenders".artinya : Dasar-dasar bagi peraturan ikut sertanya federasi
PPRK dalam penyelenggaraan siaran ketimuran di Hindia Belenda melalui
pemancar-pemancar Nirom.
Dalam kenyataanya,PPRK masih harus berjuang tiga tahun lebih sebelum
persetujuan tersebut dapat direalisasikan.Pada tanggal 16 Agustus
Soetarjo Karto Hadi Koesumo bersama pemimpin-pemimpin dalam pergerakan
Volksraad,mengajukan mosi dan mosi tersebut disetujui.
Dengan demikian,pemerintah Hindia Belanda terpaksa mengambil
langkah-langkah untuk merealisasikan persetujuan 7 Mei 1937.Namun masih
diperlukan waktu dua tahun,sebelum pemerintah Hindia Belanda menetapkan
dengan surst keputusan tanggal 30 Juni 1940,agar siaran ketimuran
diserahakan kepada NIROM,Siaran PPRK yang pertama melalui pemancar
NIROM,diudarakan tanggal 1 November 1940.
SOLOSCHE RADIO VERENIGING (SRV)
Secara resmi SRV didirikan tanggal 1 April 1933.Dengan demikian,SRV
lebih dulu mengudara dari pada NIROM.Sebeum SRV didirikan,di Solo sudah
ada pemancar radio yang dihadiahkan oleh SP.Mangkunegara VII kepada
perkumpulan kesenian "Javaansche Kunstkring Mardi Raras
Mangkunegaran",untuk menyiarkan klenengan ketoprak dan wayang
orang. Kekuatan pemancaranya tidak besar,hanya dapat didengar sekitar
Solo saja.Sedang jumlah pesawat radio hanya sekitar 20 buah.
Menyadari pentingnya kesenian Jawa untuk dikembangkan,maka atas prakarsa
Ir.Sarsito diusahakan pemancar yang lebih kuat dan dibentuk perkumpulan
khusus untuk penyiaran radio. Maka lahirlah SRV tanggal 1 April 1933.
Siarannya selain di daerah Jawa, dapat di tangkap di daerah Sumatra,
Kalimantan dan Sulawesi.
SRV berkembang dan membentuk beberapa kring diberbagai kota di Jawa yang
akhirnya menjelma menjadi perkumpulan radio tersendiri. Sementara itu
tahun 1934 berdirilah VORO (Vereniging Voor Oostersche Radio Omroep) di
Jakarta,
Sejarah RRI - Masa Penjajahan Jepang
Dalam peperangan di Asia dan Pasifik, Jepang sebagai sekutunya Nazi
Jerman dan Italia di Eropa, mengadakan ekspansi ke arah selatan. Pada
bulan 1 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang, tepat pada tanggal 8
Maret 1942 pemerintah Belanda dengan seluruh angkatan perangnya
menyatakan menyerah kalah di Bandung kepada balatentara Jepang.
Sejak tanggal itu dibekas kawasan Hindia Belanda dulu berlaku
pemerintahan militer Jepang atas nama resminya waktu itu Dai Nippon.
Sebagai konsekuensinya, segalanya menurut kehendak tentara pendudukan.
Demikain pula radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta
dimatikan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyoku, yang
merupakan pusat radio siaran dan berkedudukan di Jakarta.
Cabang-cabangnya yang dinamakan Hoso Kyoku terdapat di Bandung,
Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang.
Di samping stasiun siaran tadi, setiap Hoso Kyoku mempunyai cabang
kantor bernama Shodanso yang terdapat di kabupaten-kabupaten. Kantor ini
mempersatukan semua bengkel atau service radio setempat, sehingga semua
reparasi pesawat radio langsung di bawah pengawasan balatentara.Semua
pesawat disegel, sehingga rakyat tidak bisa mendengarkan radio siaran
luar negeri kecuali ke 8 Hoso Kyoku di Jawa tadi.
Dalam pemerintahan militer sudah tentu semua radio siaran diarahkan
kepada kepentingan militer Jepang semata-mata. Tapi satu hal yang
penting dicatat, ialah bahwa selama kependudukan Jepang itu, kebudayaan
dan kesenian mendapat kemajuan yang pesat. Pada saat itu rakyat mendapat
kesempatan banyak untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian, jauh
lebih dibandingkan dengan zaman penjajahan Belanda. Kesempatan ini
menyebabkan pula munculnya seniman-seniman pencipta lagu-lagu Indonesia
baru.
Radio Sebagai Alat Perang Urat Syaraf
Dengam maklumat resmi Tenno Heika tanggal 8 Desember 1941 perang pasifik
mulai berkobar dan Jepang menggunakan siaran radio sebagai alat psywar
atau perang urat syaraf terhadap negara-negara Asia yang hendak
dikuasainya. Semboyan mereka adalah untuk memerdekakan bangsa-bangsa
Asia yang masi dijajag dan selanjutya untuk bersama-sama membangun Asia
Timur Raya yang makmur.
Radio Tokyo setiap malam melancarkan siaran propaganda yang sangat
mengena. Beberapa bulan sebelumnya tentara Jepang mendarat di Indonesia
setiap malam sekitar pukul 22.00 di rumah-rumah orang Indonesia yang
mempunyai pesawat radio, berkerumun orang untuk mengikuti siaran Radio
Tokyo.
Dengan komentar-komentarnya yang sangat tepat, penyiarnya dapat
menciptakan suarana Indonesia merdeka dilingkungan pendengarnya,
seolah-olah kedatangan tentara Jepang di Indonesia sangat
dinanti-nantikan oleh rakyat Indonesia.
Lebih-lebih setelah Philipina, Indonesia Malaya dalam waktu singkat
dapat dikuasai Jepang, setiap orang Indonesia sudah mulai siap-siap
menyambut tentara pembebasan Jepang. Begitu besar pengaruh siaran radio
yang melancarkan propaganda menjelang pendaratan tentara Jepang di
Indonesia pada awal bulan 1 Maret 1942 sehingga tentara Hindia Belanda
sebenarnya sudah kalah sebelun bertempur dengan tentara Jepang.
Perang urat syaraf itu makin mengenai sasarannya karena disusul dengan
kenyataan-kenyataan dalam perang yang sebenarnya dan disaksikan oleh
rakyat Indonesia. Kenyataan tersebut diawali dengan tibanya tentara
Jepang di Tarakan, Kalimantan Timur pada tanggal 10 Januari 1942 dan
Komandan Belanda di Pulau itu menyerahkan diri pada tanggal 13 Januari
1942. Seminggu kemudian Balikpapan yang merupakan sumber minyak berhasil
diduduki pula oleh Jepang, dan berturut-turut jatuh ke tangan Jepang
kota-kota Pontianak, Martapura kemudian Banjarmasin.
Dalam gerakannya ke selatan Jepang pada tanggal 14 Februari 1942
menerjunkan pasukan payungnya di Palembang dan dua hari kemudian
Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki. Dengan jatuhnya Palembang
maka terbukalah pulau Jawa bagi tentara Jepang.
Dalam menghadapi ofensif Jepang tersebut, pihak sekutu membentuk suatu
komando yang disebut ABDACOM (American British Dutch Australian
Command), sedangkan pada akhir Februari 1942 Gubernur Jenderal Hindia
Belanda Tjarda Van Starkenborgh Stachower pindah dari Batavia ke
Bandung.
Untuk merebut pulau Jawa Jepang menggunakan tentara ke-16 yang dipimpin
oleh Lentnan Jenderal Hitosyi Imamura. Pada tanggal 1 Maret 1942
tentaranya berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus, yakni di Teluk
Banten, di Eretan Wetan dekat Indramayu Jawa Barat, dan Kragan dekat
Rembang Jawa Tengah. Pasukan yang mendarat di Banten berhasil menduduki
ibukota Batavia pada tangal 5 Maret 1942, dan pada hari itu juga
Buitenzorg' (Bogor) dapat direbut dan kemudian bergerak ke Bandung.
Sementara itu Pasukan yang mendarat di Eretan langsung menduduki Subang
dan merebut lapangan terbang Kalijati.
Dari gerakan dua arah ini tentara Jepang menuju ke pusat pemerintahan
dan Komando Tentara Hindia Belanda di Bandung dengan gerakan kilat,
sehingga dalam waktu satu minggu saja seluruh Angkatan Perang Serikat di
Indonesia diwakili oleh Letnan Jendral Ter Poorten menyerah tanpa
syarat kepada tentara Jepang. peristiwa itu terjadi setelah diadakan
perundingan di Kalijati pada tanggal 7 Maret 1942 antara Letnan Jendral
Imamura beserta staf dan Gubernur Jendral Tjarda dan Letnan Jendral Ter
Poorten bersama stafnya pula.
Mengenai penyerahan tanpa syarat itu Jendral Ter Poorten diperintahkan
untuk mengumumkannya sendiri kepada pasukan-pasukannya melalui radio,
yang ternyata kemudian dibacakan oleh Kepala Staf. Maka sejak tanggal 8
Maret 1942 berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia dan
dengan resmi di tegakkan kekuasaan Kemaharajaan Jepang.
Sejarah RRI - Babak Baru Dalam Penyiaran Radio di Indonesia
Kekalahan Jepang terhadap sekutu sudah diperhitungkan oleh
pemimpin-pemimpin dan angkatan muda Indonesia yang selalu mendengarkan
radio luar negeri sejak akhir bulan Juli 1945. Lebih-lebih setelah BBC
London pada tanggal 26 Juli 1945 menyiarkan Ultimatum tentara sekutu
yang pertama supaya Jepang menyerah. Ultimatum tersebut di ulangi pada
tanggal 11 Agustus 1945 setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki. Baru pada tanggal 14 Agustus 1945, BBC menyiarkan secara pasti
pernyataan penyerahan Jepang tanpa syarat oleh Tenno Heika, tetapi
pemerintah Jepang di Jakarta masih menutup-nutupi peristiwa menyerahnya
Jepang tersebut. Betapa pun peristiwa itu ditutup-tutupi, dari tingkah
laku dan wajah orang-orang Jepang nampak sekali perubahannya. Dikalangan
radio, orang-orang Jepang menjadi curiga terhadap orang-orang Indonesia
dan menyensor lebih keras naskah-naskah dan bahan-bahan siaran yang
hendak di siarkan di tiap-tiap Hoso Kyoko(stasiun radio Jepang).
Akhirnya setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17
Agustus 1945, maka atas perintah Hoso Kanri Kyoku, pada tanggal 19
Agustus 1945 semua Hoso Kyoku dihentikan kegiatannya. Selamanya
berkuasanya pemerinta militer Jepang di Indonesia boleh dikatakan
merupakan babak baru bagi penyiaran radio di Indonesia.
Babak baru ini ditandai dengan beberapa hal : a. Terpusatnya radio dalam
1 tantangan yaitu tangan penguasa dengan suara resmi pemerintah. Di
luar radio pemerintah tidak ada radio lain. Radio amatirpun tidak di
perbolehkan. b. Dititik-beratkan siaran radio kepada usaha
perang;tegasnya sebagai alat untuk memenangkan perang. c. Diharuskannya
rakyat untuk hanya mendengarkan siaran-siaran radio pemerintah. untuk
itu, semua pesawat radio disegel gelombang pendeknya. d. Dilarangnya
penyiaran lagu-lagu barat dan penggunaan bahasa asing dalam penyiaran
dalam negeri.
Memang di dalam babak baru ini terdapat segi-segi negatif dan
positifnya. Di antara segi-segi negatifnya ialah tidak adanya kebebasan
pemilik radio untuk mendengarkan siaran yang diinginkannya. Sebaliknya
adanya sistem radio umum, bagi masyarakat merupakan kesempatan yang baik
untuk mendapatkan keterangan dan penerangan tentang keadaan negara dan
perkembangan situasi perang, sekalipun dari satu pihak. Di antara
segi-segi positifnya kita catat bahwa larangan penyiaran musik dan
lagu-lagu barat dan penggunaan bahasa asing, mendorong para
penyelenggara siaran dan seniman musik untuk memproduksi musik dan
lagu-lagu Indonesia sebanyak-banyaknya di samping mendorong peningkatan
penggunaan bahasa Indonesia.
Harus diakui , selama 3 setengah tahun, Jepang telah memperkaya
perbendaraan musik Indonesia dengan ratusan lagu Indonesia baru yang
sebagian masih merupakan lagu yang populer hingga sekarang. Segi positif
lainnya ialah, semangat kebangsaan yang dikobar-kobarkan oleh siaran
radio. Sekalipun pidato-pidato dan komentar radio di tujukan kepada
musuh-musuh Jepang ( Amerika, Inggris dan Belanda ) siaran-siaran anti
Imperialis-Kolonialis itu telah membangkitkan semangat kebangsaan dan
kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Khusus bagi Angkatan Muda, semangat
tersebut berkembang dengan hangatnya, menjadi semangat rela berkorban
jiwa dan raga untuk membela tanah air dan bangsanya. Pada hakikatnya,
siaran radio dimasa pendudukan Jepang telah mempersiapkan rakyat
Indonesia dan mendorong matangkan Angkatan Mudanya yang memasuki pintu
gerbang kemerdekaan Indonesia. Akibat disegelnya semua gelombang pada
pesawat-pesawat radio milik umum oleh penguasa Jepang, maka berita
mengenai menyerahnya Jepang kepada sekutu diketahui agar terlambat oleh
masyarakat Indonesia.
Namun berkat keberaniaan para pejuang kita yang melakukan gerakan di
bawah tanah dan selalu mengikuti perkembangan perang Pasifik melalui
siaran-siaran luar negeri. Kemudian diketahuilah secara pasti bahwa
Jepang telah kalh dalam Dai Toa Senso ( Perang Asia Timur Raya ) dan
menyerah kepada sekutu tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945. Berita
inilah yang mendorong angkatan muda Indonesia mendesak Soekarno-Hatta
untuk segera memproklamasikan kemerdekaan pada esok harinya tanggal 19
Agustus 1945, sedangkan kedua pemimpin tersebut tidak dapat melepaskan
tanggung jawabnya sebagai ketua dan wakil ketua panitia persiapan
kemerdekaan Indonesia (PPKI). Kedua pemimpin tersebut tetap hendak
membawa persoalan itu kedalam sidang PPKI yang sudah dijadwalkan untuk
diadakan pada tanggal 18 Agustus 1945. Akibat adanya pendapat antar
golongan tua dan golongan muda ini telah menimbulkan suatu drama yang
dikanal sebagai " peristiwa rengasdengklok ". Ketegangan suasana selama
dua hari antara tanggal 15 dan 17 Agustus 1945 ini terasa sekali
diJakarta dan sekitarnya, tidak terkecuali orang-orang radio bagi
penyiaran proklamasi kemerdekaan, apabila saatnya tiba nanti.
Sejarah RRI - Masa Revolusi Fisik (1945 - 1950)
1. Pengambil alihan penguasaan RRI
Pada tanggal 13 September 1945, Maladi mengadakan pertempuran dengan
pemimin-pemimpin Bagian Solo HOSO Kyoku untuk menyampaikan
keputusan-keputusan rapat 11 September di Jakarta. Kemudian Kepala Hoso
Kyoku,Yasaki dam Kepala Siaran Yamamoto di beri tahukan hasil komperensi
radio di Jakarta, kecuali mengenai penyerahan pemancar yang masih di
rahasiakan mereka tidak keberatan diadakannya pertemuan dengan semua
pegawai radio untuk mendengar keterangan-keterangan Maladi tentang
berdirinya Radiio Republik Indonesia.
Juga pengibaran sang merah putih di studio pada pertemuan itu mereka
setujui. Pada pertemuan 15 September di studio, orang - orang Jepang
tidak hadir. Semua pegawai Solo Hoso Kyoku termasuk tenaga- tenaga
karawitan dan musik menyatakan sumpah stia sebagai pegawai Radio
Republik Surakarta. Niatan Tersebut di lakukan secara tertulis dalm satu
daftar kolektif di sertai tanda tangan masing- masing.
Semetara itu RRI Surakata mendapat undangan dari pimpinan Kantor Berita
Nasional Antara untuk menghadiri pertemuan di Bandung yang di
selenggarakan pada tanggal 19 September 1945.Pertemuan tersebut
membicarakan pembentukan kantor kantor cabang Antara di daerah- daerah,(
Kantor pusatnya sudah berdiri kembali sejak 3 September 1945).
Dari RRI Surakarta di utus Pujoartono dari bagian teknik. Sekitar
tanggal 19 September kota Solo diramaikan dengan berita- berita bahwa
tentara Belanda telah masuk Indonesia. Dimana -mana di adakan
rapat-rapat oleh KNI daerah, DKR, Organisasi kelaskaran dan Angkatan
Muda Indoesia (AMI) untuk membicrakan persiapan mengahdapi perang dengan
Belanda.Menghadapi perang denagn Belanda.Waktu itu Maladi terpilih
sebagi ketua AMI dan harus memimpin rapat-rapat AMI.
Kesempatan itu di pergunakan untuk membicarakan penguasan
pemancar-pemancar Jepang ssecepat mungkin,agar siaran radio dapt di buka
kembali. Dengan menunjukan kepada Yasaki dan Yamamoto suasana perang di
kota itu,Maladi berhasil mendesak mereka untuk memulai lagi dengan
siaran-siaran sejak tanggal 26 September. Mengenai penyerah
pemancar-pemancar kepada RRI, orang-orang Jepang minta waktu, karena
mereka harus inta izin dulu dari Jakarta. Sehari kemudian Kepala Siaran
Solo Hoso Kyoku, Yamamoto memberi tahukan bahwa dari Jakarat ada
perinatah untuk merelaynya siaran dari Jkarta pada jam 19.00.Siaran
apa,mereka sendiri tidak tahu. Kemudian Maladi menghubungi Semarang
untuk menayakan apakah juga menerima intruksi tersebut dari Jakarta.
Berdasarkan informasi dari Soehrdai (RRI) yang akan berpidato adalah Van
der Plas, bukannya PResiden Ri untuk itu di putuskan RRI Solo,
Yogyakarta dan Semarang tidak akan merelay Jkarata pada jam 19.00,
melaikan menyiapakn acara-acara RRI sendiri sampai jam 20.00. Soehardi
(RRI Semarang) menjawab bahwa instruksi itu dari pihak Jepang dan kita
tidak perlu mentaati perintah mereka kecuali jiak yang pidato Presiden
Republik Indonesia. Pada jam 18.00 semau hadir di Studio untuk mengambil
langkah-langkah seperlumya Pada jam 18.30 Mladai menerima telepon
Soehardi dari Semarang, yang secara singkat memberitahu: jangan relay
yang pidato Van de Plas - teruskan Soemadi.Yogyakarta segera dihubungi,
dan pada jam 7 malam : 19.00 studio-studio tri tunggal Solo Yogyakarta
dan Semarang menyiarkan acara- acara RRI sendiri samapi jam 20.00.
Yamamoto yang juga hadir di studio di beritahu mengapa Solo tidak
merelay Jakarta.
Mala itu juga Maladi membicarakan denaga Kepala Solo Hoso Kyoku Yasaki,
supaya segera diadakan penyerahan atas semua pemancar dan alat-alat
radio,karena bangsa Indonesia sudah harus berperang dengan Inggris, yang
ternyata sudah menyelundupkan orang-orang Belanda. Apakah Yasaki sudah
menerima instruksi dari okonagidari Jakarta atauukah melihat suasana
perang di Solo, yang semakin meningkat, kurang jelas. Tetapi ia
menyatakan bersedia menyerahkan seluruh kekuasaan kepada Maladi. Ia
meminta supaya penyerahan kekuasaan itu dilakukan dalam suatu upacara
pada tanggal 1 Oktober 1945.
Bertempat di Kantor Solo Hoso Kyoku Balapan 199, Yasaki menandatangani
naskah penyerahan kekuasaan atas Solo Hoso Kyoku dalam bahasa Jepang dan
Indonesia tepat pada jam 10.00 pada tanggal 1 Oktober 1945.
Sebagai balas budi Yasaki, Yamamoto dan Kono ( Kepala Teknik )
diberitahu. Dengan penyerahaan kekuasaan oleh Yasaki kepada Maladi atas
Solo Hoso Kyoku pada tanggal 10 Oktober 1945, maka bagian pertama dari
program RRI di Surakarta telah terlaksana. Keselamatan mereka di Solo
dan kemudian di tempat kosentrasi orang-orang Jepang di Baros Tampir
akan di jamin.
Maladi berani memberi jaminan itu, karena menurut keputusan KNI
Surakarta, pengangkutan orang-orang Jepang, dari Solo ke Baros Tampir
diserahkan kepada AMI dengan pengawalan BKR. Perlu pula dicatat, bahwa
pada hari-hari sekitar 1 Oktober Komandan Tentara Jepang di Surakarta
menyerahkan senjata dan alat-alat perang Jepang pada KNI yang diwakilli
oleh DJatikusumo. Beberapa waktu kemudian menyusul penyerahan
gudang-gudang di seluruh keresidenan Surakarta, berisi bahan makanan,
pakaian, kertas dan segala macam baranng lainnya yang dikuasai Jepang
kepada KNI termasuk pula gedung untuk kantor dan hotel-hotel dan
rumah-rumah yang dipakai oleh orang-orang Jepang.
Urusan gedung-gedung dan lain-lain tersebut juga diserahkan kepada AMI.
Kedudukan AMI waktu itu sangat penting. Dalam pimpinan KNI Surakarta
ketua AMI menjadi anggota, sehingga ketua AMI Surakarta selalu
diikutsertakan dalam semua masalah yang bersangkutan dengan pemerintah
di Surakarta, dan urusan orang-orang Jepang. Dalam kedudukan sebagai
ketua AMI itu, Maladi tidak sulit untuk mengusahakan biaya-biaya untuk
RRI Surakarta dari KNI. Dalam hubungan ini perlu disebut nama Dr.
Kartono anggota pimpinan KNI, yang memberi bantuan besar terhadap RRI,
sehingga seluruh kebutuhan biaya RRI d Surakarta sejak Oktober 1945
sampai ada keputusan Pemerintah Pusat tentang status RRI, dibayar oleh
KNI / Pemerintah Surakarta sebagai pinzaman yang akan diperhitungkan
dengan Pemerintah Pusat Tetapi itu tidak berarti bahwa RRI Surakarta ada
di bawah pengawasan atau urusan Pemerintah Surakarta. RRI dalam segala
hal tetap bertanggungjawab kepada RRI Pusat.
2. Persiapan menghadapi kemungkinan perang.
Solo memilih kompleks Gunung Lawu sebagai basis radio gerilya, dan kota
Tawang mangu sebagai pusatnya. Tawamangudi zaman Belanda maupun zaman
Jepanng menjadi tempat peristi rahatan orang-orang kaya dari Solo,
sehingga banyak rumah-rumah / bungalow dan villa yang baik. Dari Tawang
manngu ada jalan menuju Sarangan di daerah Madiun yang dapat dilalui
jeep Ke Selatan bannyak jalan menuju ke Wonogiri, sedang ke Utara menuju
daerah Sragen. Dengan jalan- jalan tersebut Tawangmangu merupakan satu
titik persaingan yang strategis dalam perang girilya.
Mulai dari Kerangpandan sampai Tawangmangu, yang panjangnya kurang lebih
15 km, jalannya terus menanjak dengan bulut bukit dan jurang-jurang
diselah kiri dan kanan sehingga dengan pertahanan yang baik, musuh tidak
dapat mudah mencapai Tawangmangu.
Setelah terbentuk tentara keamanan rakyat di Surakarta yaitu Divisi X
Panembahan Senopati, maka Tawangmangu berada dalam daerah komando
militer Batalion Lawu. Komandannya seorang Letnan Kolonel bernama Sastro
yang kemudian dikenal sebagai Sastro Lawu. Pimpinan RRI Surakarta
Maladi juga diangkat sebagai Komandan Batalyon Perhubungan (PHB) Divisi X
dengan pangkat mayor, sehingga kenal baik dengan Letkol Sastro Lawu.
Atas bantuan RRI diberi 9 buah rumah villa bekas milik Belanda, semua
terletak didesa Ombang-ombang di atas Tawangmangu. Selain 9 buah rumah
tersebut, untuk keperluan RRI masih dapat disediakan beberapa rumah lain
di Tawangmangu sendiri, Di sekitar lapangan olahraga (Sport Park).
Rumah yang terbesar segera disiapkan untuk studio darurat dan sebuah
rumah lagi untuk gedung pemancar dan peralatan teknik radio. Rumah-rumah
lainnya disediakan untuk para pegawai siaran dan teknik.
Dari PTT RRI mendapat bantuan saluran telepon khusus untuk modulasi pemancar yang dihubungkan oleh Stasiun Solo.
Setelah persiapan-persiapan tersebut dikerjakan,sebuah dari 3 pemancar
Solo diangkut ke Tawangmangu, yaitu pemancar SRV lama, RCA. Sebuah
pemancar SRV berasal dari PTT,tetapi di Solo,tetapi ditempatkan di luar
studio. Yang tinggal distudio hanya pemancar kecil untuk siaran lokal.
Persiapan-persiapan di Tawangmangu dapat diselesaikan dalam bulan
Oktober,berkat bantuan Komandan Bataliyon Letkol Sastro Lawu.
Kompleks pemancar tersebut juga diberi pengawalan tentara, sehingga
pegawai-pegawai teknik RRI, yang bertugas di Tawangmangu dapat bekerja
dengan tentram dan aman. Seperti diramalkan, tentara Inggris tidak hanya
mendaratkan pasukan-pasukannya di Jakarta, tetapi juga di Semarang dan
Surabaya, kemudian di Medan,Padang dan Palembang. Bentrokan-bentrokan
semakin meluas sehingga akhirnya timbul pertempuran-pertempuran di
Bandung,Semarang dan Surabaya. Di Surabaya pertempuran-pertempuran
terjadi 2 gelombang. Yang pertama antara tanggal 28-30 Oktober, dan yang
kedua mencapai puncaknya pada tanggal 10 November.
Menjelang pertempuran pertama tanggal 28 Oktober Pemimpin Umum RRI Dr.
Abdulrachman Saleh yang membawa surat dari Presiden Ri, datang di
Surabaya Dari Solo didampingi oleh Soemardi dan Soedomomarto dari
Yogyakarta serta Oetojo dan Soegito dari Solo. Maksudnya untuk
mengeluarkan pemncar-pemancar radio yang besar-besar milik angkatan laut
Jepang dari Surabaya Missi tersebut berhasil dengan dapat diangkutnya
beberapa pemancar keluar kota tepat pada waktunya.
Tetapi rombongan Dr. Abdulrachman Saleh terpaksa menempuh route lain
untuk kembali ke Solo berhubung adanya pertempuran-pertempuran yang
meluas keseluruh kota. Pemancar-pemancar yang dikeluarkan dari Surabaya
itu diangkut ke Kediri. Pemancar-pemancar tersebut sebuah di antaranya
kemudian dipakai untuk siaran keluar negeri dari Kediri dengan "Stasion
Call Radio International Indonesia" RRI yang dibiayai langsung oleh
Perdana Mentri Sutan Syahrir.
Di Semarang pertemburan berkobar mulai tanggal 20 November, sampai
tentara Inggris melakukan pemboman atas kota Semarang. Pemancar-pemancar
dan alat-alat RRi dapat diangkut keluar, sebagian ke Pati, sebagian ke
Pekalongan dan sebagian lagi ke Salatiga.
pasukan - pasukan Inggris dari Semarang juga bergerak sampai Magelang,
tetapi terpaksa kembali karena gempuran - gempuran TKR dan Laskar -
laskar rakyat di sepanjang jalan Magelang Ambarawa.
Studio - studio RRI Surakarta dan Yogyakarta tidak luput dari pemboman angkatan udara Inggris.
Surakatra pada tanggal 25 November, Yogyakarta pada tanggal 25 dan 27 November.
Studio RRI Surakarta dihujani dengan bom dan roket, tetapi hanya
mengalami kerusakan ringan. sekalipun andaikata studio terkena tepat,
siaran dari solo tidak akan terhenti karena distudio sudah tidak ada
sebuah pemancar pun.
Dua buah pemancar besar sudah diamankan, sebuah di Tawangmangu dan
sebuah lagi di Jebres, Solo, sedang pemancar kecil ada di ruang studio.
Sore harinya RRI Surakarta sudah berkumandang di udara dari studio
darurat dirumah Darmosoegondo pasar Legi No. 7. Gedung siaran RRI
Yogyakarta, bekas gedung Nilmij mengalami kerusakan yang agak berat
akibat pemboman yang kedua kalinya tanggal 27 November. pada pemboman
pertama tanggal 25 November sebagian besar dari bom - nom roket Inggris
jatuh di alun - alun utara sebelah selatan gedung siaran RRI. Pemancar -
pemancar RRI semua selamat dan kemudian di pindahkan ke Terban Taman.
menurut perhitungan kaum politisi di Jakarta, RRI Surakarta, Yogyakarta,
Semarang dan lain - lainnya pasti mengalami malapetaka dan Radio
Republik Indonesia menjadi badan penyiaran radio tanpa radio.
Pengalaman kita dengan tentara Inggris yang baru sebulan berada di
Indonesia, lebih menebalkan keyakinan akan kebenaran perhitungan kita,
bahwa peperangan yang lebih besar akan berkobar di Indonesia.
3. Siaran Luar Negeri RRI
Nama RRi sejak Pertempuran - pertempuran di Surabaya semakin meluas dikenal di seluruh Indonesia.
RRI semakin dicintai oleh rakyat, karena siaran - siarannya mereka
rasakan menyuarakan isi hati nurani rakyat, menjabarkan keingin rakyat.
RRI mereka anggap menjuru bicarai rakyat yang sedang membela kemerdakaan
menegakan kedaulatan, bertekad mempertahankan proklamasi 17 Agustus
1945. sehidup semati dengan Republik Indonesia.
karena missi RRI kedalam negeri sudah semakin memadai, maka perlu
diusahakan secepat mungkin agar suara RRI dapat didengar oleh Dunia.
Dalam mengemban tugas ini, studio Jakarta terpaksa menyiarkan 2 macam
suara, yang satu suara RRI dan yang lain suara sekutu resminya, tetapi
sebenarnya suara belanda.
dan sampai kapan RRI Jakarta bisa bersuara, sudah dapat diramalkan,
yaitu tidak akan lama. Pemancar - pemancar yang dipakai, berada dalam
daerah kekuasaan tentara Inggris.
Orang - orang kita di Bandung juga menggunakan pemancar - pemancar besar
dari PTT untuk siaran ke luar negri. tetapi tentara Inggris juga berada
di Bandung dan pasti akan menguasai pemancar - pemancar tersebut.
Sebagian dari pemancar - pemancar PTT itu dikeluarkan oleh pemuda
-pemuda PTT dan kawan - kawan RRI bandung. Dr. Abdulrachman Saleh
sendiri sudah membawa sebuah pemancar sendiri yang besar dari Bandung ke
Yogyakarta, yang akan dipakai untuk siaran ke luar negeri. tenaga -
tenaga siaran luar negeri dari Jakarta sudah berangkat ke Yogyakarta,
antara lain Soeriodipoero.
Tetapi sampai akhir November 1945 pemancar di Yogyakarta dari Bandung itu masih belum siap.
Perdana Menteri Sutan Sjahril sendiri bersama Manteri penerangan telah
menugaskan adanya siaran ke luar negeri dengan menggunakan pemancar -
pemancar yang sudah dikeluarkan dari Surabaya ke Kediri, antara lain
yang diusahakan Dr. Abdulrachman Saleh sewaktu akhir Oktober datang di
Surabaya. tetapi sampai akhir November pemancar - pemancar di kediri itu
belum juga siap.
Maka Dunia terpengaruh oleh propaganda Belanda, yang dengan leluasa
dapat mengatakan, seolah - olah Republik Indonesia adalah bikinan Jepang
atau Soekarno dan Hatta Collabolator Jepang atau di Indonesia tidak ada
apa - apa dan kerusuhan - kerusuhan di timbulkan oleh kaum ekstrimis,
dan lain sebagainya Belanda sangat takut kalau - kalau suara RRI sampai
didengar di luar negeri. mereka berhasil memperdayakan sekutu untuk
membom studio - studio Surakarta dan Yogyakarta dengan dalih bahwa RRI
radio membantu radio pemberontak, yaitu radio BPRI ( Barisan
pemberontakan Republik Indonesia ) radio nya Bung Tomo, yang katanya
menghasut rakyat untuk merintangi pelaksanaan tugas tentara sekutu di
Indonesia.
Maka Angkatan Udara Inggris dari Semarang digerakan untuk melakukan
pemboman terhadap ke dua studio RRI tadi. pemboman Inggris tersebut
lebih mendorong RRI Solo untuk menggunakan pemancar - pemancar RCA di
tawamangun untuk siaran ke luar negeri.
Dengan gelombang pendek 30 meter pemancar yang berkekuatan 250 Watt itu
pasti akan dapat didengar di Australia dan Asia. Dizaman SRV pemancar
tersebut dengan gelombang 60 meter dapat didengar dengan baik di seluruh
Indonesia. Masalahnya tinggal mencari tenaga, terutama yang menguasai
bahasa Inggris.
Dalam bulan Desember 1945 Soeriodipuro datang ke Solo dari Jakarta untuk
menyelenggarakan siaran luar negeri dari Yogyakarta dengan pemancar PTT
dari Bandung. ternyata pemancar tersebut masih memerlukan beberapa
bagian alat - alat sehingga belum siap. waktu diberi tahu tentang
rencana siaran luar negeri dengan pemancar di Tawangmangu, ia sangat
bersemangat. tentu masih di perlukan beberapa tenaga lagi untuk
menyelenggarakan siaran luar negeri secara kontinu. sambil mendidik
tenaga - tenaga siaran, Soeriodipuro mulai siaran dalam bahasa Inggris
dari Solo dengan pemancar bergelombang 60 m.
Yang mendaftarkan diri pertama - tama adalah Susanti Soeriodipuro
Kartohadikusumo, putri bekas ketua PPRK. dengan 2 orang, Soeriodipuro
permulaan Januari 1946 mulai dengan siarannya. tenaga - tenaga sukarela
lainnya datang, yaitu Dr. Solarko, seorang dokter gigi dan pelukis di
Solo dan Oetomo Ramelan, adik Oetojo Ramelan.
Setelah siaran dalam bahasa Inggris dari RRI diketahui masyarakat,
peminat - peminat lain datang untuk menawarkan bantuan tenaganya, tetapi
masih memerlukan pengalaman. mereka adalah Rochmulyati, Winarsih,
Winarti dan Mieke Saleh ( adik Popie Saleh yang kemudian menjadi istri
perdana menteri Sutan Sjahril ).
Setelah latihan siaran luar negeri di Solo berjalan 2 bulan, dan
persiapan di Tawangmangu selesai, Staf siaran luar negeri Soeriodipuro
pindah ke Tawangmangu untuk menyelenggarakan siaran - siaran langsung
dari Tawamangu, yang tentu lebih sempurna dari pada dari Solo dengan
menggunakan saluran telepon untuk modulasi yang sering terganggu.
Dari Yogyakarta juga dapat di tarik 2 orang tenaga berpengalaman Budiman
dan Hajii, yang dahulu juga menjadi penyiar siaran luar negeri Hoso
Kyoku Jakarta.
Pada bulan Maret 1946 siaran luar negeri RRI dari Tawamangu dapat di
mulai dengan Staf seluruhnya berjumlah kutang lebih 25 orang, termasuk
keluarga Soeriodipuro dan lain - lain serta tenaga - tenaga teknik dan
operator. Siaran luar negeri dari Tawamangu dapat berlangsung dengan
baik, berkat bantuan yang besar dari Komandan Batalyon Letkol Sastro
Lawu.
4. RRI menjadi Jawatan Radio
Wakil - wakil dari 8 studio RRI di Jawa berkumpul lagi untuk
bermusyawarah pada tanggal 12 dan 13 Januari 1946. Konperensi radio
kedua ini di adakan di Solo yang mendorong bahkan mengharuskan
bermusyawarah ialah situasi negara dan keadaan studio - studio RRI.
Situasi Negara
Situasi Jakarta tidak memungkinkan Pemerintah RI berkedudukan di
Jakarta. Tentara Inggris telah menguasai kota - kota Surabaya, Semarang
dan Bandung dan 800 orang marinir Belanda telah mendarat di Jakarta.
Keadaan studio - studio RRI
- Jakarta : Dengan penetapan menteri Penerangan di masukkan kedalam Kementrian Peneranggan.
- Bandung : Bagian teknik dimasukkan kedalam PTT bagian siaran kedalam
Jawatan Penerangan Propinsi Jawa Barat. Pimpinan Teknik di pegang oleh
pegawai PTT Hardjopranoto sedang pimpinan siaran oleh Kepala Jawatan
Penerangan Mr. Djumhana.
- Purwokerto : Semula menjadi bagian dari PTT tetapi kemudian
memasikan kedalam Jawatan Penerangan setelah menerima pemancar dari
Kementrian Penerangan melalui RRI Jakarta.
- Semarang : Mendapat biaya Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro,
tetapi tidak di masukkan kedalam pemerintah Daerah. Setelah Semarang di
kuasai oleh tentara Inggris dalam bulan November 1945, Pemancar -
pemancar di singkirkan ke 3 tempat, Pekalongan, Pati dan Salatiga.
- Surakarta : Tidak mengalami perubahan status, sedang untuk pembiayaan siaran menerima pinzaman dari Pemerintah daerah Surakarta.
- Yogyakarta : Tidak mengalami perubahan status sedang untuk pembiayaan mendapat bantuan dari KNI Daerah berupa pajak radio.
- Surabaya : Tidak mengalami perobahan status, sedang untuk pembiayaan
siaran menerima bantuan keuangan dari KNI daerah Surabaya. Setelah
Surabaya dikuasai oleh tentara Inggris akhir November 1945
pemancar-pemancar disingkirkan ke 3 tempat : Mojokerto, Bondowoso, dan
Madiun. Induk RRI di Jawa Timur berkedudukan di Mojokerto sedang satu
bagian menyiarkan dari Bondowoso. Pemancar di Madiun diserahkan kepada
Dewan Pemuda Republik Indonesia, yang kemudian mengadakan siaran sendiri
dengan nama "Gelora Pemuda"
- Malang : Mendapat biaya dari PPT tetapi statusnya tidak berubah.
Yang hadir dalam Konperensi adalah wakil-wakil dari 8 studio RRI,dan
Dr.Abdulrachman sendiri, yang sejak bulan November 1945 bertempat
tinggal di Yogyakarta,diperbantukan kepada markas Besar Tentara untuk
mempersiapkan pembentukan Angkatan Uadar RI. Selain itu juga Mr. Ali
Sastroamidjojo, yang mewakili Menteri Penerangan Moh. Natsir. Acara
tunggal dalam Konperensi ialah menetapkan status RRI. Kepada Pemerintah
diminta keputesan apakah berdiri di luar Pemerintah atau di dalam atau
sebagai Badan Penyiara Radio Semi Pemerintahan. Atas nama Maenteri
Penerangan Mr. Ali Sastroamidjojo, menjelaskan, bahwa radio dianggap stu
alat yang vital untuk dipakai sebagai corong Pemerintah. Oleh karena
itu RRI harus menjadi satu Jawatan Pemerintah. mengenal tempatnya belum
diputuskan, karena ada 2 kementerian yang menginginkan kementerian yaitu
Kemnterian Penerangan dan Kementerian Perhubungan. Juga ada kemungkinan
lain, yaitu bagian teknik (pemancar dan lain-lain) di bawah PTT dan
bagian siaran di bawah Kementerian Penerangan, sedang Pimpina Umum
diangkat atas usl Menteri Penerangan dan Menteri Perhubungan. Para wakil
RRI bulat untuk tetap satu organisasi dan menolak untuk menjadi 2
bagian, teknik dan siaran. Yang kedua supaya diputuskan apakah RRI
berada di dalam atau di luar Pemerintahan. Setelah diadakan pembicaraan
yang memakan waktu 1 malam, terdapat 4 suara sutuju berdiri di luar
Pemerintahan, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, sedang 4
suara lainnya mangusulkan menjadi Jawtan Pemerintahan yaitu Jakarta,
Bandung, Purwokerto, Malang. Terpaksa diadakan pembicaraan sekali lagi
yang akhirnya mencapai keputusan 6 suara setuju menjadi Jawatan
Pemerintah. Surakata dan Semarang tetap mengkhendaki RRI sebagi badan
Otonom di luar pemerintah, apakah 100% swasta atau kasemi Pemerintah
asal Otonom. Tetapi karena sebagian besar dari stasiun-stasiun
menghendaki RRI menjadi Jawatan Pemerintah konkritnya dalam KementErian
Penerangan kedua studio tersebut pada keputusan konperensi dengan
catatan sebagi berikut:
(1) Sebagai Jawatan Pemerintah , RRI harus menjalankan sepenuhnya politik Pemerintah.
(2) Pegawai-pegawai jangan hanya mau menerima gaji dan fasilitas-fasilitas lainnya sebagai pegawai
pemerintah,tetapi tidak mau mentaati peaturan-peraturan Pemerintah.
(3) Sebagai pegawai pemerintah, pegawai RRI harus loyal kepada Pemerintah dan jangan main
bunglongan. Ini betentangan dengan sumpah 11 September 1945. Jika ada yang pada suatu saat
tidak dapat mengikuti politik pemerintah , secara konsekwen dia harus keluar dari RRI.
(4) Sumpah 11 September 1945 tetap menjadi pedoman perjungan RRI, karena sumbernya adalah
proklamasi 17 Agustus 1945.
Empat hal sebagi catatan tersebut oleh wakil-wakil Surakarta dan
Semarang di minta Kepada semua wakil RRI untuk dijadikan keputusan
komperensi, yang mendapat persetujuan bulat dari semua yangbhadir,
termasuk wakil-wakil Kementrian Penerangan.
Oleh karena Kementerian Penerangan baru akan memberi keputusan dalam
waktu 1 minggu,maka koperensi memutuskan untuk mengadakan konperensi
lagi pada tanggal 23 dan 24 Januari 1946 di Purwekert.
Atas permintaan wakil-wakil Kementerian Penerangan, supaya dalam
konperensi di Purwekerto sudah dapat di ajukan usul-usul yang konkrit
tentang susunan organisasi dan personalia Pimpinan RRI, maka konperensi
membentuk sebuah panitia kerja yang terdiri atas 3 orang, yaitu
Soeriodipuro sebagai ketua,Harto ( Semarang ) dan Soedarmoto (
Yogyakarta) sebagai anggota.
Perlu ditambahkan, bahwa dalam komperensi juga harir wakil0wakil dari
RII ( Radio Internasional Indonesia ) dari Kediri sebagai pendengar.
5. PERTUMBUHAN RRI SAMPAI CLASH KE II
Pentingnya radio dalam masa revolusi fisik telah disadari oleh
masyarakat, terutama badan-badan perjuangan seperti BPRI ( Barisan
Pemberontakan Republik Indonesia ) dan kelaskaran rakyat lainnya.
Radio merupakan alat pengobar semangat perjuangan yang sangat ampuh,
setelah Inggris melancarkan agresi militer diSurabaya, Semarang,
Magelang dan Bandung.
Atas usaha masyarakat dengan bantuan KNI Pemerintah Daerah,
Komandan-Komandan Tentara maupun lasykar setempat, maka berdirilah
Badan-Badan Siaran Radio di Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Magelang,
Cilacap, Tegal, Madiun, Kediri dan Jember, dalam masa 1946 sampai 1947.
RRI sendiri pada waktu itu sudah mempunyai stasiun-stasiun di Jakarta,
Bandung yang kemudian menyingkir ke Tasikmalya; stasiun Purwokerto
kemudian menyingkir ke Kebumen dan Wonosobo; stasiun-stasiun Surakarta,
Yogyakarta; Semarang, menyingkir ke Pati, Pekalongan dan Salatiga :
Surabaya, menyingkir ke Mojokerto dan selanjutnya ke Kediri; sedang
Malang yang menyingkir ke Blitar. Stasin-stasiun RRI sudah mempunyai
organisasi Nasional dengan pedoman perjuangan yang satu, sehingga suara
RRI merupakan satu suara yang sama dalam politik dan arah tujuannya.
Stasiun-stasiun radio yang lain didirikan oleh masyarakat dengan pedoman perjuangan yang berbeda-beda.
Enersi yang dikeluarkan oleh stasiun-stasiun tersebut, tidak selalu efektif dan belum tentu mencapai sasaran.
Untuk memanfaatkan tenaga, alat dan semangat yang dimiliki oleh
stasiun-stasiun tersebut, maka RRI mengadakan pendekatan kepada
badan-badan penyiran radio masyarakat itu, supaya bersatu dalam barisan
RRI.
Ajaran RRI itu mendapat sambutan baik, bahkan sebagian besar
mengibginkan bergabung dengan RRI. maka bertambahlah cabang-cabang RRI
diCirebon, Tasikmalaya, Garut, Magelang, Cilacap, Madiun, Kediri dan
Jember sebelum clash kedua tahun 1947. Bahkan diTasikmalaya terdapat dua
stasiun RRI, yaitu RRI Priangan Timur dan RRI Bandung, karena tidak
dapat dipersatukan, maka terpaksa RRI Bandung, yang tidak dapat bekerja
sebagai Radio Perjuangan Jawa Barat.
Setelah "Persetujuan Renvile" tanggal 17 Januari 1948 keadaan berubah.
Karena daerah kekuasaan defakto Republik hanya terbatas pada "Daerah
Renvile", yang meliputi Keresidenan Banyumas, Kedu Pati, Surakarta,
Yogyakarta, Madiun dan Kediri saja, maka stasiun-stasiun RRI yang secara
leluasa beroperasi sesudah persetujuan Renvile adalah :
1. KEDIRI; RRI Jawa Timur , sebagai unit penggabungan RRI Surabaya dan RRI Kediri.
2. Blitar; RRI Malang
3. Madiun; RRI Madiun
4. Surakarta; RRI Surakarta dan RRI Salatiga (pecahan RRI Semarang ).
5. Yogyakarta; RRI Yogyakarta dan RRI Perjuangan Jawa Barat (bekas RRI Bandung ).
6. Magelanng; RRI Jawa Tengah sebagai unit penggabungan RRI Magelang , RRI Pekalongan dan RRI Tegal
7. PATI; RRI Pati (pecahan RRI Semarang)
8. KEBUMEN; RRI Purwokerto (sebagian)
9. WONOSOBO; RRI cilacap dan bekas RRI Purwokerto (sebagian)
Dengan badan-badan kelasykaran yang menyelenggarakan siaran radio
sendiri, antara lain BPRI, maka RRI mengadakan kerjasama yang baik dalam
siaran, serta memberikan bantuan materiil dan tenaga (membuat pemancar
radio dan memberi alat-alat dan sebagainya), terutama sekali dalam masa
tahun 1945-1946.
RRI Kediri yang sebenarnya juga dibiayai dari anggaran Kementerian
Penerangan, baru dapat digabungkan ke dalam RRI Jawa Timur di Kediri,
setelah pemberontakan PKI di Madiun tanggal 19 September 1948.
6. PERISTIWA MADIUN 19 SEPTEMBER 1948 Jika Progam Perjuangan RRI
terutama ditujukan untuk menghadapi perang melawan Inggris dan Belanda,
maka "Peristiwa Madiun" pada tanggal 19 September 1948, sebenarnya tidak
pernah diperhitungkan. Maka dalam menghadapi peristiwa tersebut, RRI
Madiun maupun RRI Pusat todak mengadakan persiapan-persiapan untuk
"terugval basis".
Tanpa kesempatan dan kemampuan untuk melawan Pimpinan RRI Madiun masih
setai kepada Sumpah 11 September dan pemerintah R.I RRI Madiun ME-relay
pidato radio Presiden Soekarno yang menyatakan, bahwa pernyataan Muso
adalah pemberontakan terhadap Pemerintah yang syah yang tentunya sangat
menggemparkan.
Semua radio umum di Madiun waktu itu masih di-stel pada gelombang RRI
Madiun, sehingga pidato radio Presiden Soekarno diikuti oleh seluruk
masyarakat Madiun. Selain tindakan berani pimpinan RRI Madiun itu,
pegawai-pegawai telegrafinya secara rahasia menggunakan pemancar
telegrafi untuk hubungan RRI Sala dan Kediri. dalam hubungan itu dikirim
berita-berita tentang kegiatan kaum pemberontakan, lokasi pasukannya
dan lain-lain yang dapat dipakai oleh penumpasan kaum pemberontak.
Hubungan rahasia itu dapat dilangsungkan sampai Siliwangi masuk kota
Madiun pada tanggal 30 September 1948.
Tidak ada satu orangpun dari RRI Madiun terlibat dalam pemberontakan.
RRI Madiun bersama RRI lainnya membantu operasi militer Pemerintah untuk
menghancurkan pemberontakan yang melarikan diri dari kota
Madiun. SIARAN GM-SSPM SEbelum pemberontakan PKI di Madiun meletus, di
Solo terjadi tembak-menembak antara satu kesatuan Siliwangi di asrama
Srambatan, dekat kantor RRI di Balapan, dengan saputngan merah diikat
dilehernya.
Menurut keterangan, mereka itu adalah anak buah Jindau dari ALRI.
Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 13 September. Sehari sebelumnya
telah didahului panculikan-penculikan terhadap-terhadap
pimpinan-pimpinan politik dari golongan nasionalis, dan golongan agama.
Menurut keterangan orang yang melihatnya, penculikan dilakukan oleh
satuan0satuan tentara dalam pakaian seragam hitam-hitam dengan sapu
tangan merah dilehernya. Kejadian tersebut menimbulkan
ketegangan-ketegangan, tidak saja di kota Solo, tetapi juga di seluruh
Keresidenan Surakarta, karena ternyata gerakan penculikan terhadap
pemimpin-pemimpin politik dari nasionalis dan agama juga dilakukan di
daerah-daerah seluruh Keresidenan Surakarta.
Berhubung dengan situasi yang semakin panas di Surakarta pada tanggal 15
September, Panglima Besar Jendral Sudirman mengeluarkan perintah harian
kepada Angkatan Perang R,I, supaya tetap memelihara persatuan dan
kesatuan serta melindungi kedaulatan negara. Pada tanggal 17 September
daerah Surakarta dinyatakan bahaya.
Kolonel Gatot Subroto diangkat sebagai Gubernur Militer Daerah Militer
Istimewa Surakarta,Semarang, Pati, dan Madiun, disingkat GM-SSPM,
berkedudukan di Solo. Oleh karena RRI Surakarta menyiarkan
pengumuman-pengumuman dari staf GM dan beberapa jawatan yang ada
hubungannya dengan pemberontakan Madiun, Kolonel Gatot Soebroto
mengambil keputusan untuk membentuk satu Komando Penerangan GM yang
aktif memberikan penerangan-penerangan kepada masyarakat dalam rangka
pemulihan kembali ketenangan umum.
Supaya Komando Penerangan itu tidak ditakuti rakyat (waktu itu
masyarakat memang dihinggapi ketakutan jika melihat orang berseragam
tentara dan bersenjata), maka Komando Penerangan GM dipercayakan kepada
Maladi sebagai pimpinan RRI. Kebetulan waktu itu, Maladi masih terdaftar
dalam satuan PHB dan MBT dengan pangkat mayor.
Lengkapnya Komando Penerangan adalah "Komando Penerangan Mobile
GM-SSPM", yang kemudian oleh masyarakat disingkat menjadi "Komando
Penerangan Mobile GM-II". Staf Penerangan GM-II hanya terdiri dari 5
orang. Yaitu: Maladi sebagai Komandan/Ketua, Soewito Koesoemowidagdo
(Kepala Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Tengah), Soetarto (Berita Film
Indonesia), Darmosoegondo, reporter RRI Pusat , dan Oetoyo Soemowidjojo
(Kepala Bagian Teknik RRI Sukakarta).
Aparat yang digunakan oleh Penerangan GM-II adalah personel dan
perlengkapan (kendaraan, alat-alat, radio, alat perfilman, mesin tulis
dan lain-lain) dari RRI, BFI dan Jawatan Penerangan. Jadi sebenarnya,
"Penerangan GM-II" adalah aperatur Kementerian Penerangan yang diberi
wewenang dan fasilitas oleh Gibernur Milliter.
Dengan wewenang dan fasilitas tersebut, Penerangan GM-II dapat meminta
segala Informasi dari pasukan-pasukan yang beroperasi dalam penumpasan
pemberontakan dan dapat mengikuti semua operasi militer.
Dengan demikian, Penerangan GM-II dapat mengumpulkan semua data kegiatan
militer dari tangan pertama atau melihat sendiri, sehingga dapat
memberi penerangan yang luas, mendalam dan positif kepada masyarakat.
Atas usul Gubernur Gatot Soebroto, siaran Penerangan GM-II dari Solo
tiap malam selama 30 menit, dijadikan siaran sentral yang di-relay oleh
semua pemancar RRI di wilayah Republik.
Dengan bahasanya yang mudah dimengeti oleh rakyat, bahasa rakyat, maka
RRI dapat mengulas dan mengomentari operasi-operasi militer tepat serta
meresap dalam ingatan para pendengar radio.
Usaha lain dari Penerangan GM-II yang sangat popeler adalah "gambar hidup keliling".
Unit "gambar hidup keliling" ini terdiri sebuah truck (truck hijau RRI
Solo AD-216)yang dengan alat pengeras suara, mikropon, layar putih, film
strips, proyektor film dan lain-lain, sebuahmobil sedan (De Soto RRI
Pusat AD-211) dan kadang-kadang juga mobil dari BFI. Unit tersebut
mengikuti operasi militer satuan-satuan Siliwangi.
Setelah sebuah kota berhasi dikuasai oel Pemerintah maka sore harinya
diadakn pertunjukan, yang oleh rakyat diberi nama "Gambar Hidup". Film
strips yang dipertunjukan melukiskan gambar-gambar dari pemimpin
pemberontak, rumah-rumah yang dibakar, korban-korban kekezaman mereka.
Di samping itu dipertunjukan pula kegiatan penduduk membangun kembali
rumah—rumahnya.
Gambar-gambar tentang sikap ramah prajurit terhadap penduduk diperrtunjukan supaya rakyat merasa dekat dengan TNI.
Siaran sentral GM-II setiap malam dari Sala selama dua bulan (Oktober
dan November) dan "Penerangan Mobile GM-II, telah ikut memegang peranan
dan bantuan berhasilnya pemarintah menumpas pemberontakan PKI, serta
memulihkan keamanan dan ketentraman umum dalam Desember.
waktu singkat.
7. CLASH KE-II MELETUS (19 Desember 1948).
Penumpasan pemberontakan PKI Muso menginjak tahap terakhir dengan
terkepungnya rombongan Amir Sjarifudin di daerah Kudus seperti yang
disiarankan oleh Darmosoegondo dalam siaran GM-II hari itu.
Artinya tugas Pemerangan GM-II sudah hampir selesai, dan tugas RRI
selanjutnya dicurahkan untuk meningkatkan potensi siarannya guna
menghadapi suasana buruk dengan penggantian Dr. Van Mook oleh Dr. Boel
dan tuduh-tuduhan Belanda seolah-olah tentara Republik melangar genjatan
senjata. "Keadaanya seperti sebelim tangal 20 Juli 1947" kata Perdana
Menteri Mohamad Hatta, artinya seperti saat-saat menjelang penyerbuan
tentara Belanda kedaerah Republik pada tanggal 21 Juli 1947 yang
mengorbankan agresi milliter Belanda ke-1.
Seminggu kemudian diperoleh keterangan bahwa seluruh Devisi Siliwangi
telah menerima perintah bersiap-siap kembali ke Jawa Barat. Semua satuan
Siliwangi yang sebelum pemberontakan Mediun ditempatkan di daerah
Surakarta dikonsentrir di daerah Yogyakarta, Kedu dan Banyumas.
Sementara itu di sepanjang garis denarkasih Semarang - Surakarta dan
Semarang - Kudus. Tentara Belanda mengerahkan pasukan-pasukan dan
pelengkapan perang secara besar-besaran.
Dari staf Panglima Markas Besar Komando Jawa sebelum rombongan MBKI
berangkat ke Jawa Timur dengan KLB (Kereta Api Luar Biasa) diperoleh
keterangan, bahwa APRI akan mengadakan letihan besar-besaran setelah
rombongan kembali dari Jawa Timur sekitar tanggal 19 Desember.
Ditambah dengan sikap Delegasi Belanda yang main mutlak-mutlakan dalam
perudingan dengan delegasi Indonesia, Meladi mengambil kesimpulan,
bahawa tentara Belanda sedang menyiapkan agressi yang kedua.
Ia teringat rencana 2 tahu Belanda tertanggal 10 November 1946. Rupanya
keadaan ekonomis Republik dan Angkatan Perangnya setelah pemberontaka
PKI Muso sudah dilanggap matang oleh Belanda untuk memberi pakulan
terakhir kepada Republik. RRI harus segera dipersiapkan untuk menghadapi
perang gerilya. Pada tanggal 14 DESEMBER dikirim kawat pada semua
studio RRI berisi instruksi sebagai berikut: Semua pamancar besar supaya
dikeluarkan dari kota Studio-studio darurat dipegunungan supaya sudah
siap untuk bekerja. Pada tanggal 15 Desember Meladi menghadap Menteri
Penerangan di Yogyakarta untuk melaporkan segala persiapan menghadapi "
doorstoot" Belanda ke Yogyakarta.
Sebelum penyerbuan Belanda itu pemancar-pemancar Yogyakarta supaya
diangkut ke Wonosari dan daerah pegunungan untuk siaran gerilya. Untuk
itu diminta bantuan keuangan dari Kementrian Penerangan.
Menteri menjawab: "Kita tidak perlu tergesa-gesa. Perundingan di Belanda
di Kaliurang sedang berjalan dan wakil-wakil PBB ada di sini.
Kemungkinan clash dengan Belanda sangat tipis dalam tahun ini".
Sekalipun demikian Menteri tidak keberatan RRI mengadakan
persiapan-persiapan. Intruksi tetap diberikan RRI Yogyakarta supaya
dengan persiapan pengangkutan pemancar-pemancar dan alat-alat radio dari
kota.
Mulai tanggal 16 Desember beberapa Menteri tiba di Solo, antara lain Dr
Sukiman, Mr Susanto Tortopradjo, I.J.Kasimo, Soepeno, dan juga Mayor
Jenderal Soehardjo dengan anggota-anggota KNIP antara lain Zainul
Arifin, Prawoto Mangkusasmito, Mr Kasman dan Soewilowati.
Dari Mayor Jenderal Soehardjo diperoleh keterangan, bahwa keadaan
genting dan beberapa menteri serta anggota pimpinan KNIP sesudah sidang
kabinet tanggal 16 Desember ditugaskan di kota Yogyakarta.
Keesokan harinya tanggal 19 Desember 1948, masyarakat dikejutkan oleh
ledakan-ledakan di sebelah barat kota Solo. Beberapa pesawat
terbang,tampak berputar-putar cukup rendah. Sampai demikian jauh
masyarakat belum menduga kalau itu merupakan serangan Belanda, karena
sebelumnya diperoleh keterangan akan adanya latihan APRI, secara
besar-besaran.
RRI mulai mengetahui bahwa suara ledakan-ledakan tersebut adalah
serangan Belanda, setelah diterima informasi bahwa BBC London dan PCJ
Hilversum telsh menyiarkan perintah Kerajaan Belanda kepada tentara
Belanda di Indonesia untuk melakukan "Aksi Polisionalnya" terhadap R.I.
Setelah meneruskan informasi tersebut kepada Kolonel Gatot Subroto,
Kepala Jawatan Radio Maladi memanggil para pimpinan bagian dari pusat
RRI dan RRI Surakarta untuk segera berkumpul di Kantor Pusat RRI Balapan
199.
Dari RRI Pusat yang hadir adalah Adang Kadarusman, Soetardi
Hardjoloekito, M.Tjatji, Pratdjo Witono dan Soedjiteng. Dari RRI
Surakarta yang hadir adalah Saparno, Oetoj dan Sidhato. Kepada mereka
secara singkat dijelaskan bahwa: 1. Belanda telah memulai agresi
militernya yang ke II dengan segenap kekuatannya untuk menghancurkan
Republik. 2. Peramg kali ini akan menentukan hidup matinya Republik
Indonesia. 3. Setiap saat Belanda bisa masuk kota Solo dan menduduki
seluruh daerah Surakarta. 4. Bagaimanapun keadaanya RRI berpegang teguh
pada Sumpah 11 September dan bertekad melaksanakan semboyan "Sekali di
Udara tetap di Udara".
Berhubungan dengan itu diinstruksiakn sebagai berikut: (1) Semua
pemancar harus diangkat ke Tawamangu, kecuali pemancar kecil untuk
meneruskan siaran di kota, sampai saat Belanda akan masuk kota. (2)
Semua arsip Jawatan di Pusat dan Studio supaya diangkut ke tempat-tempat
yang sudah ditentukan.
Mengenai tugas dan nasib pegawai RRI ditegaskan sebagai berikut: (1)
Sebagai pemimpin umm Maliadi akan terus memimpin di luar. Markas RRI
adalah kompleks Lawu dengan pusatnya Tawangmangu. Siapa yang ingin
berjuang di luar supaya mengikutinyan atau menyusul di kempleks Lawu.
Bagaimana kahidupan di luar, Jawatan tidak dapat menjamin. Tetapi ia
akan menjamin, bahwa jika yang satu makan, semua akan makan. (2) Siapa
yang ingin tinggal di kota, diminta supaya tetap setia kapada
Prokklamasi 17 Agustus 1945 dan jangan sampai bekerja pada Belanda. (3)
Untuk bekal perjuangan di kota akan diserahkan sekedar modal, berupa 1
kg candu. Apabila terdesak oleh keadaan, diizinkan barang-barang Jawatan
yang tidak vital dijual untuk meringankan beban hidup para pegawai. (4)
Jika ada kesempatan supaya diusahakan hubungan dengan yang di luar,
agar tetap berjuang dalam satu barisan.
Sebagai penutup pertemuan Maladi menyatakan" RRI Yogyakarta sudah tidak
terdengan lagi siarannya.Hubungan telepon sudah putus. Siaran radio
Australia telah memberitahukan bahwa Belanda telah menduduki Yogyakarta.
Pada jam 14.00 KLB yang mambawa rombongan MBKD dari Jawa Timur tiba di
stasiun Balapan. Maladi memberi laporan kepada Staf Panglima Besar bahwa
menurut radio Australia Yogya sudah diduduki tentara Belanda. Tidak
disiarkan tentang Presiden dan para Menteri yang ada di Yogya.
Mengenai RRI dilaporkan bahwa pemancar-pemancar dari Solo sudah mulai
diangkut ke Tawamangu yang akan menjadi pusat siaran RRI dalam gerilya.
Kepada Studio-studio RRI lainnya sudah diinstruksikan untuk terus berjuang di pegunungan.
Secara garis besar Staf Panglima Besar memberitahukan daerah markasnya
yang mobil dan daerah gubernur militer/ Panglima Devisi di Jawa. Juga
diberitahukan "terugvalvasis" pemancar PHB pusat yang akan menjadi pusat
komunikasi angkatan perang. Jam 14.20 rombongan MBKD meneruskan
perjalanan dengan KLB ke Yogya, artinya kejurusan barat.
Pengangkutan pemancar dan alat-alat studio yang pertama sudah terlaksana
pada jam 12.00 dengan truk hijau RRI Solo AD-211 jam 21.00 truk itu
sudah tiba kembali ke Solo untuk berangkat lagi pada jam 24.00 membawa
pemancar kedua beserta alat-alat lainnya.
Kedua pemancar tersebut di drop di Tawamangun. Yang pertama, pemancar
RCA berkekuatan 250 watt, segera dirakit kembali supaya tanggal 20
Desember sudah dapat diudarakan lagi. Yang kedua, sebelum pemancar NSF
diangkat dari Tawangmangu ke tempat lain yang tidak jauh dari situ untuk
cadangan. Yang masih ditinggalkan di Solo hanya pemancar kecil untuk
siaran lokal. Pemancar ini baru akan diangkut keluar kota apabila
tentara Belanda mendekati Solo. Pemancar RRI Solo lainnya, bekas
pemancar PTT berkekuatan 150 watt sudah diangkut lebih dahulu ke
Tawangmangu pada tanggal 17 Desember berdasarkan instruksi tanggan 14
Desember. Pemancar tersebut juga akan dikeluarka dari Tawangmangu ke
temopat lain sebagai cadangan. Yang dioperasikan dari Tawangmangu adalah
pemancar RCA karena paling ringan, mudah diangkut dengan tenaga menusia
dan dapat dipasang dengan cepat.
Seandainya Belanda sudah memasuki Karangpandan, pemancar tersebut masih dapat diselamatkan dalam waktu dua jam saja.
Perlu juga diketahui bahwa didaerah Lawu terdapat Perusahaan-perusaan
perkebunan teh, kopi, karet dan gula yang pada umumnya mempunyai
pembangkit tenaga listrik. Ke tempat-tempat itulah pemancar-pemancar
cadangan akan diakui.
Dengan demikian, jika semua rencana berjalan baik, maka sampai tiga
tahap sesudah Tawangmangu, RRI akan dapat melakukan siaran lagi dari
tiga tempat yang berlainan. Pada tanggal 20 Desenber pagi-pagi, AD-211
sudah tiba kembali di Solo. Dari Tawangmangu datang berita telepon bahwa
tempat itu dibom dari udara, sehingga tiang-tiang antene RRI harus
ditrobohkan atas perintah komandan pertahanan, Letkol. Hollan Ismandar.
Akibatnya pemancar RCA belum dapat di udara. Maladi diminta segera
datang untuk membicarakan masalh penyiaran RRI dari Tawangmangu dengan
komandan Pertahanan. Pada jam 11.00 ia berangkat ke Tawangmangu dengan
truk AD-11 yang mengangkut alat-alat terakhir kejurusan Tawangmangu,
antara lain arsip-arsip kantor, mesin tulis dan mesin reneo.
Alat-alat tersebut diturunkan di Karanganyar untuk disimpan dirumah
oarang tua RRI Pusat, Soetojo di sebuah desa yang tidak jauh dari
Karanganyar. Beberapa kali dalam perjalanan antara
Karanganyar-Tawangmangu, truk AD-211 berpapasan dengan iring-iringan
mobil dan truk berisi pasukan-pasukan tentara memakai daun-daunan
penyamar kejurusan Solo. Melihat itu, Maladi bertanya-tanya dalam hati,
apakah pasukan-pasukan tersebut akan memperkuat kota Solo, ataukah
menyingkir dari Tawangmangu, karena mungkin Belanda menerjunkan pasukan
payungnya setelah membongi Tawangmangu. Tetapi di sepanjang jalan, di
tiap-tiap pohon terlihat tentara dalam keadaan siap tempur.
Setiap kali berpapasan iringan-iringan kendaraan tentara, truk RRI
AD-211 harus berhenti, sehingga baru pada jam 16.00 dapat mencapai
karang pandan. Pemancar NSF ternuyata masih ada di Karangpandan, karena
oleh komandan pertahanan Tawangmangu dilarang untuk dipasang di san.
Terpaksa pemancar NSF harus disembunyikan di Karangpandan. Hari itu,
alat-alat radio laboratorium PTT atas perintah komandan setempat
diangkut ke desa tersebut setelah alat-alat PTT diangkut.
Tetapi karena sudah sore dan tenaga-tenaga pengangkut tidak kembali ke
Karangpandan, maka pemancar NSF masih terlantar di halaman kantor
kewedanaan Karangpandan. Oetojo, yang mengawal pemancar tersebut memang
menunggu kedatangan Meladi untuk meminta Instruksi ke mana pemancar itu
harus dibawa. Secara kebetulan ada seorang kebayan (pegawai desa)dari
desa Punthukerjo bernama Soekarno yang kenal dengan Maladi dan
menawarkan jasanya. Katanya , bila dianggap cocok , rumahnya disediakan
untuk menyimpan pemancar NSF.
Waktu itu sudah jam 18.00 , sehingga diambil keputusan untuk segera
mengangkut pemancar NSF ke Punthukerjo, dengan AD-211 Kepada Oetojo yang
dibantu dua orang tenaga terbaik yaitu Soetrisno dan Sabilan di
perintahkan , supaya sudah mengangkut pemancar , segera berangkat ke
Tawangmangu membawa surat Maladi kepada Komandan Letkol Holand
Iskandar. Pokonya tanggal 21 Desember dari Tawangmangu harus sudah
jalan.
Pada jam 20.00 Maladi dapat kembali dengan truk AD-211 untuk mengtur
persiapan terakhir di Solo , antara lain mengangkut dokumen-dokumen di
rumahnya sendiri dan memberi instruksi-instruksi kepada rekan-rekan yang
akan berjuang di dalam kota . Oetojo , Oetrisno dan Sabilan dengan
berjalan kaki berangkat ke Tawangmangu .
Kira-kira setengah perjalanan , di desa Gayadompo , yang letaknya lebih
tinggi dari desa-desa sekitarnya dan jalan mulai menurun , langit di
sebebelah barat kelihatan kemerah-merahan. Di depan nampak lampu-lampu
mobil yang berkecepatan tinggi semakin mendekat. Truk RRI AD-211
berhenti dan Maladi berdiri di tengah jalan , melambaikan tangan sebagai
isyarat agar iring-iringan mobil yang menuju Karangpandan berhenti,
ternyata mobil Mayor Suprapto Kepala Staf Gubernur Militer. Mayor
Suprapto keluar dari mobil dan memberi tahu , bahwa Solo sudah mulai
dengan pembumihangusan , dan tentara Belanda sudah berada di daerah
Kartosuro 12Km sebelah barat kota Solo . Jika masih ada keperluan di
kota , Supya cept-cepat masuk ke kota dan segera keluar lagi.
Memang ia harus kembali ke kota untuk mengambil dokumen-dokumen dan
melihat keluarga , karena rumahnya juga digunakan untuk markas Komando
Tentara Pelajar , sehingga besar kemungkinan termasuk bangunan yang
harus di hanguskan. Mendekati batas kota di seberang bengawan Solo truk
harus berjalan perlahan-lahan , karena jalan penuh ribuan pengungsi yang
meninggalkan kota menuju ke Timur. Mereka menggendong anak-anak kecil,
membawa tikar , alat-alat rumah tangga dan macam-macam bingkisan berisi
apa saja yang dapat mereka bawa.
Ia melihat-lihat apakah di antara pengungsi-pengungsi itu terdapat istri dan anak-anaknya.
Sampai di jembatan Bengawan Solo, truk di hentikan oleh penjaga jembatan
seorang enggota militer , yang nampak heran sekali ada truk dari luar
masuk kota , karena jembatan itu akan dihancurkan , yaitu jam 12 malam
tepat.
Waktu ia di terangkan bahwa ia adalah Mayor Penenrangan Gubernur Milietr
yang akan mengambil pemancar radio yang masih ketinggalan di kota , ia
di perbolehkan jalan terus . Tetapi diperingatkan sebelum jam 24.00
sudah keluar dari kota . Mayor supaya hati-hati , karena di dalam kota
sudah ada mata-mata penyusup , demikian pesan polisi militer , yang
mengawal jembatan .
Sejak pemberontakan PKI Muso , mereka di datangkan dari Magelang untuk pengawal Gunbernur Militer.
Di rumah Soesatyo , bagian perlengkapan Teknik , di dekat rumah sakit
Jebres ia berhenti untuk menanyakan , apakah pemancar lokal sudah di
angkut keluar. Dijawab , bahwa studio sudah kosong dan kemungkinan
pemancar sudah di angkut bersama alat-alat radio lainnya ke desa Nusukan
( sebelah utara kota ) .
Maladi terus menuju rumahnya di Banjasari Lor . Rumah sudah terbakar dan
api masih menyala . Tidak ada seorangpun di rumah dan rumah-rumah di
sekitarnya sudah kosong , gelap dan sepi .
Dari Banjasari Lor ia terus ke RRi di jalan Marconi. Juga studio sudah
gelap , sepi . Tetapi Sirun , penjaga RRI yang setia masih ada . Sirun
melaporkan bahwa semua barang termasuk gamelan di studio sudah di angkut
keluar .
Ia sendiri ingin pulang ke desanya jika di izinkan . Tetapi ia diminta
supaya tetap di studio sampai tentara Belanda masuk kota . Dari Studio
Maladi pergi ke kantor pusat RRI di Balapan . Juga kantor ini kosong .
Perabotan dan barang-barang lainnya sudah di angkut keluar. Penjaga
kantor yang masih ada pada posnya juga di pesan seperti Sirun. Dari
Balapan terus menuju ke bekas rumah pemancar di waktu Jepang yang di
pakai untuk stasiun telegrafi dan perumahan beberapa orang pegawai
teknik di jalan Purwosari. Pemancar telegrafi dan alat-alat radio di
tempat itu sudah diamankan. Sakri , pengemudi truk yang bertempat
tinggal di rumah tersebut , minta izin untuk mengurus keluarganya .Ia
sudah sangat lemah , karena sejak tanggal 15 Desember siang malam ,
mondar mandir Solo - Tawangmangu dan ia di izinkan untuk tinggal di
Solo. Waktu itu sudah jam 23.40 , Maladi harus cepat-cepat keluar .
Kebetulan di depan gedung RRI di Purwosari ada rumah seorang anggota
tentara pelajar . Ia berhenti di depan rumah dan dari rumah itu keluar
Sutardjo seorang TP lain berpakaian seragam dengan senjata lengkap. Ia
memberitahu bahwa Nyonya Maladi dan anak-anak serta ibu dan adik-adiknya
mengungsi ke Kepatihan di rumah orang tua Oetojo. Keris pusaka di
almarinya telah diambil oleh Sutardjo sebelum almari itu terbakar dan
pusaka itu telah di serahkan kepada Nyonya Maladi. Mengenai
dokumen-dokumen di katakan mungkin sudah diangkut ke luar oleh
kawan-kawan TP lainnya. Ia hanya tahu dokumen-dokumen dan surat-surat di
rumah Banjasari Lor di keluarkan dari rumah sebelum rumah di bakar pada
sekitar jam 20.00 . Maladi merasa lega , karena sudah tahu isteri,
anak-anak dan keris pusakanya selamat.
Setelah mengambil keluarganya di Kepatihan , berangkatlah Maladi dengan
truk DD-211 ke Karang pandan tanpa mengalami kesulitan di jembatan Jurug
, sekalipun sudah lewat jam 24.00, karena jembatan belum di ledakan .
Tidak jauh dari jembatan , 3 orang karyawan RRI Solo nampak berjalan
kaki ke jurusan yang sama , dan sekalian di bawa ke Karangpandan .
Mereka adalah Suparno , Suyoko dan Sumarso , yang tujuannya ke
Tawangmangu . Sampai di karangpandan dan sudah jam 02.00 pagi . Dari
Wedana di peroleh keterangan , bahwa pengngkutan pemancar RRI yang
terakhir sudah beres , di simpan di rumah kabayan .
Keesokan harinya tanggal 21 Desember Maladi meninjau pemancar NSF di
rumah Kabayan Soekarno di desa Puntukredjo. Kebayan di beri tahu , bahwa
pemancar itu maha penting bagi RRI dan perjuangan dan di pesan , jangan
sampai di ketahui Belanda . Mengingat bahwa letak rumah Soekarno di
pinggir jalan menuju pabrik teh Kemuning yang bisa dilalui Jeep , ada
kemungkinan besar patroli Belanda yang lewat , Belanda akan memasuki
rumah itu . Bagaimana menyelamatkan pemancar itu dari penggeledahan
rumah-rumah oleh Belanda , diserahkan kepada Soekarno . selain itu juga
di pesan , supaya jangan menyerahkan pemncar itu kepada siapa saja tanpa
surat dari Maladi .
Sewaktu menuju kembali ke Karangpandan hujan turun dan terpaksa ia
mencari tempat berteduh di salah satu rumah di pinggir jalan. Dirumah
tersebut ia berjumpa dengan Kolonel Gatot Subroto dengan seluruh Staf
Gubernur Militer II, Kepala Staf Mayor Suprapto, Mayor Rusli bagin I,
Letnan Sugiri dan lain-lain. ia diberitahu bahwa beberapa mentri dan
anggota BP KNIP juga ada di Karangpandan yang sore itu akan mengadakan
rapat penting di kantor Wedana. ia diminta hadir untuk melaporkan soal
RRI.
Rapat sore jam 17.00 itu ternyata rapat satu Kabinet RI. Rapat di pimpin
oleh Dr. Sukiman Mentri Dalam Negeri dan di hadiri oleh Menteri
Kehakiman Mr. Susanto Tirtroprodjo, Menteri Pembangunan dan Pemuda
Supeno, Menteri Urusan Makanan Rakyat I.J Kasimo didampingi R.P Suroso,
Sedang dari BP KNIP hadir Zainal Arifin, Prawoto Mangkusasmito, Mr.
Kasman Singodimedjo, Mr. Sumardi (sekjen BP KNIP) dan Susilowati,
Inspektur Jendral APRI Mayor Jendral Suhardjo Hardjowardojo dan Kolonel
Supeno juga hadir dalam rapat tersebut.
Oleh Dr. Sukiman dibacakan keputusan sidang Kabinet di Yogyakarta
tanggal 16 Desember 1948 bahwa jikalau Presiden dan Wakil Presiden
karena keadaan tidak melakukan pimpinan pamerintahan , para Menteri yang
berada di Yogyakarta di serahi pmerintahan, Menurut berita radio dan
laporan sementara perwira APRI yang dapat keluar dari Yogyakarta sesudah
tentara Belanda masuk, Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri yang
ada di Yogyakata telah di tawan oleh Belanda maka para Menteri yang ada
di Karangpandan di tambah Menteti Agama K.H Maskur yang sudah ada di
Jawa Timur, merupakan Perintah RI darurat.
Dalam rapat tersebut di bicarakan pembagian bidang dari Menteri-Menteri
yang di tawan, antara lain bidang Penerangan dirangkap oleh Menteri
Supeno Keputusan itu pelu di siarkan oleh RRI dan Supeno akan
mengucapkan pidato selaku juru bicara Pemerintah. Maladi di tugaskan
untuk mengusahakan agar siaran RRI sudah dapat di mulai esok harinya
tanggal 22 Desember 1948. Berhubung masih ada keberatan dari Komandan
Pertahanan Letkol Hollan Iskandar terhadap didirikannya antena di
Tawangmangu, maka oleh Mayor Suprapto ia diberi surat perintah untuk
Letkol Hollan Iskandar , supaya membantu RRI agar siaran-siaran dapat
segera dimulai dan supaya pemancar RRI dikawal dengan baik. Tawangmangu
akan menjadi Yogy ke II Markas Pemerintah RI darurat
[sunting]RRI Saat Detik-detik Kemerdekaan Republik Indonesia
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta tiba di Bandar
Udara Internasional Kemayoran dari Saigon. Jusuf Ronodipoero meliput di
bandara. Dalam wawancaranya di bandara, Bung Karno mengatakan bahwa
untuk memperoleh kemerdekaan tidak perlu menunggu jagung berbunga. Bung
Karno mengutip ramalan joyoboyo, dan pada waktu itu tidak ada yang tahu
bahwa Kaisar Jepang telah menyatakan menyerah kepada Sekutu. Pada
tanggal 16 Agustus 1945 komplek radio tetap dijaga ketat oleh kampetai
(tentara Jepang). Siaran dalam negeri berjalan seperti biasa membawakan
lagu-lagu Jepang dan Indonesia, serta berita-berita yang masih
menyatakan kemenangan Jepang.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi hari, siaran dalam negeri terus
berjalan, dan berita disiarkan dari sumber Domei (Kantor Berita Jepang).
Sekitar pukul 17.30, ketika pegawai bersiap-siap berbuka puasa, seorang
wartawan kantor berita Jepang Syachruddin berhasil menyusup ke gedung
radio dan ke ruang pemberitaan dengan membawa teks proklamasi yang
diterimanya dari Adam Malik untuk disiarkan melalui radio. Pada pukul
18.00 petugas pemberitaan, siaran dan teknik berunding di ruangan
pemberitaan untuk mencari kesempatan menyiarkan teks proklamasi. Petugas
teknik menginformasikan bahwa studio luar negeri yang tidak mengudara,
berada dalam keadaan kosong. Studio itu dapat dipergunakan dan petugas
teknik mengatur line modulasi dari sana bisa langsung ke pemancar 10 kw
yang terletak di Tanjung Priok.
Tepat pukul 19.00 teks proklamasi dibacakan secara bergantian dalam
bahasa Indonesia oleh Jusuf Ronodipoero daj dalam bahasa Inggris oleh
Suprapto. Penyiaran teks proklamasi tersebut melalui radio di Jakarta
berlangsung berkali-kali selama 15 menit dan pembacaan yang sama
dilakukan juga oleh Radio Bandung. Pada pukul 20.30 WIB para kampetai
datang ke ruang pemberitaan karena peristiwa penyiaran teks proklamasi
telah diketahui oleh Jepang, dan menyiksa seluruh petugas radio yang
menyiarkan teks proklamasi, hal yang sama juga dialami oleh Radio
Bandung dihentikan pada pukul 21.00 WIB.
Dengan demikian bahwa radio sepeninggalnya Jepang di Indonesia
diserahkan sepenuhnya kepada Republik Indonesia, dan ini merupakan cikal
bakal dari berdirinya Radio Republik Indinesia dan hingga saat ini RRI
terus berjuang demi eksistensinya dibidang komunikasi dengan semangat
”Sekali di udara tetap diudara”.
Sejarah Lahirnya Radio Republik Indonesia
Dengan dihentikannya siaran radio dari semua Hoso Kyoku sejak tanggal 19
Agustus 1945. Masyarakat menjadi buta berita. Yang sangat
menggelisahkan masyarakat adalah tidak diketahui apa yang harus
dilakukan setelah Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka sejak
17 Agustus 1945.
Bagi orang radio semakin jelas, bahwa dalam situasi yang demikian,
siaran radio merupakan alat yang mutlak diperlukan oleh pemerintah
Republik Indonesia untuk berhubungan dan memberi tuntunan kepada rakyat,
apa yang harus dikerjakan.
Dari berita-berita radio luar negeri diketahui, bahwa yang akan
menduduki Jawa dan Sumatera adalah tentara Inggris atas nama sekutu.
Tugas mereka melucuti tentara Jepang dan memelihara keamanan, sampai
pemerintahan Belanda dapat menjalankan kembali kekuasaanya di
Indonesia. Dengan berita-berita itu kita ketahui, bahwa kedaulatan
Belanda atas Indonesia masih diakui oleh sekutu. Suatu pemerintahan yang
disebut "Netherlands Indie Civil Administration" disingkat NICA, akan
didirikan di Indonesia oleh pemerintah kerajaan Belanda.
Masalah yang akan dihadapi Republik Indonesia dalam waktu dekat adalah :
Sebelum tentara Inggris datang, tentara Jepang akan memegang kuasa dari
sekutu menjaga keamanan di Indonesia; Setelah tentara Inggris datang
(menurut berita luar negeri akhir September 1945), Pemerintah Republik
Indonesia harus berhadapan dengan tentara Inggris dan Nica. Setelah
tentara Inggris selesai dengan tugasnya, pemerintah Republik Indonesia
harus berhadapan dengan tentara Belanda yang akan menggantikan tentara
Inggris.
Jika Pemerintah Republik Indonesia berpegang teguh pada proklamasi 17
Agustus dengan UUD 45 yang mulai berlaku 18 Agustus 1945, Pemerintah
Republik Indonesia harus menolak beroperasinya tentara Inggris dan NICA
di wilayah kedaulatannya akan dilanggar. Dalam menghadapi
masalah-masalah tersebut,jelaslah,pemerintah RI harus mempunyai hubungan
yang cepat dan erat dengan seluruh rakyat yang akan mrnjadi kekuatan
utama. Satu-satunya alat komunikasi ialah siaran radio.sesuai dengan
pemikiran sebelumnya,maka sebelum tentara Inggris mendart kita sudah
harus melaksanakan:
- Pembentukan satu organisasi siaran radio nasional.
- Menguasai semua pemancar di 8 stasiun radio didaerah Jawa.
- Untuk itu tidak ada jalan lain,kecali mengadakan pertemuan dengan
wakil-wakil dari 8 bekas Hoso Kyoku. Tempat yang dipilih adalah Jakarta.